Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label pojok santai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pojok santai. Tampilkan semua postingan

18 April 2012

Teknologi Internet, Harus Dijauhi Atau Dihadapi


Seiring dengan perjalanan perkembangan teknologi dunia yang semakin maju di segala lini banyak perubahan besar dalam kehidupan manusia. Salah satu dampak besar dalam lompatan teknologi (leaf of technology) yang terus melesat adalah dominasi teknologi berbasis informasi yang dikenal dengan Internet. Ya, internet di masa kini sudah menjadi bagian vital kehidupan manusia. Sejak ditemukan pertama kali oleh Departemen Pertahanan Amerika (US America of Defense) pada tahun 1969, internet yang semula hanya bisa diakses terbatas oleh kalangan tertentu sekarang sudah menjadi konsumsi umum dan diakrabi oleh segenap lapisan masyarakat dunia. Jika dulu internet hanya bisa diakses melalui perangkat komputer, maka saat ini cukup satu gadget kecil seukuran genggaman tangan untuk menjelajahi dunia tanpa batas ini. Sektor publik dan swasta juga mendayagunakan internet untuk operasi mereka.

Teknologi selalu berubah tiap detik. “Technology changes every seconds”. Kalimat yang sangat tepat mengartikan perubahan yang terus terjadi saat ini. Mau tak mau, manusia cenderung ingin menyesuaikan diri dengan perubahan jika tak ingin tertinggal. Internet dengan segala resikonya harus dihadapi sebagai bagian dari kehidupan dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Anak kecil pun telah diperkenalkan untuk mengikuti arus informasi dan perkembangan dunia baik di sekolah maupun komunitasnya. Demikianlah memang realita yang harus diterima.

Perkembangan internet bolehlah diumpamakan sebagai pisau bermata dua. Diakui banyak kalangan bahwa terdapat kekhawatiran besar bagaimana mengarahkan arus besar penggunaan internet yang sangat rentan dan rawan disalahgunakan. Tidak sedikit pemuda dalam usia potensial (baca: pelajar atau mahasiswa) yang membuang banyak waktunya di depan layar komputer dan ponsel tanpa memanfaatkan informasi positif yang dapat diambil. Sebaliknya, mereka justru menghabiskan hari untuk jelajah chatting online, game online, jejaring sosial, bahkan konten “khusus dewasa” yang haram. Memang benar, peranan penting dimiliki internet sebagai penyalur informasi dan komunikasi. Tetapi kemudahan akses internet benar-benar memberikan masalah baru bagi pemerhati pendidikan, khususnya dalam bidang moral dan etika. Internet berpotensi menjadi dalang utama kehancuran akhlak dan moral.

Fenomena Jejaring Sosial

Sejak diluncurkan pertama kali pada Februari 2004 oleh Mark Zuckerberg, facebook telah menjelma menjadi hal paling fenomenal dan bagian fundamental dalam kehidupan manusia. Bagaimana tidak, mari kita lihat data resmi yang dipublikasikan media massa. Tahun 2011 Indonesia sempat menjadi Negara terbesar kedua pengguna facebook di dunia setelah Amerika Serikat. Pada 1 Februari 2012, posisi kedua yang sebelumnya dipegang Indonesia telah berubah. Adalah India, negara dengan jumlah populasi penduduk terbesar kedua di dunia, memiliki 43.497.980 pengguna Facebook. Indonesia yang memiliki jumlah 43.060.360 pengguna Facebook menjadi negara ketiga terbesar di dunia seperti dirilis oleh Inside Facebook. Saling geser antar negara bukan tidak mungkin akan terus berlanjut mengingat dinamika dunia maya dan jumlah pengguna yang terus berkembang.

Satu hal yang patut dicermati dari statistik di atas adalah, facebook benar-benar sudah menjadi bagian hidup masyarakat masa kini terutama pemuda dan pelajar. Facebook beruntung karena tumbuh beriringan dengan perkembangan dunia seluler yang membuat cara terhubung pengguna dengan media menjadi mudah dan sederhana. Angka ini belum diintegrasikan dengan jumlah pengguna situs jejaring sosial lain seperti twitter, mySpace dan banyak microblogging lain yang terus bermunculan.

Banyak sekali ekses yang ditimbulkan oleh ledakan berjejaring sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Di satu sisi, jejaring sosial membuat konektivitas antar pengguna yang terbatas jarak dan waktu seolah terhapus. Berbagi informasi, menjalin silaturrahim, dialog dan diskusi bahkan rapat organisasi pun bisa dikerjakan bersamaan dan mudah melalui media ini. Tidak sedikit pula yang lalu berjodoh dan melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius. Hubungan komunikasi yang dulu serasa tidak mungkin diwujudkan menjadi mudah dan terasa lebih dekat mengenal figur publik. Di sisi lain, potensi negatifnya pun bisa dengan mudah dieksplorasi. Facebook bisa menjadi sarana maksiat yang efektif untuk berhubungan antara lawan jenis. Berawal dari dunia maya berlanjut ke dunia nyata.

Melihat perkembangan internet yang sudah demikian luas dan mudah diakses, agaknya sangat sulit jika bukan mustahil untuk menjauhkan anak sekarang secara mutlak dari internet. Yang mungkin bisa dilakukan adalah pengetatan dan pengawasan pemakaian sesuai fungsi. Barangkali bukan keputusan bijak jika anak sekarang diisolasi sama sekali dari internet. Akan membuatnya tertinggal dari informasi terkini juga pergaulan sosial sesamanya. Memang sepertinya itu adalah tindakan preventif yang kelewat ekstrim. Namun bisa saja itu jadi pilihan jika memang situasi di luar kendali. Semua kembali kepada kesiapan pengguna dalam memahami kegunaan fasilitas ini dengan baik. Jika sama sekali belum siap, solusi terbaik adalah dengan menjauhkannya sama sekali apalagi jika disalahgunakan ke arah akses konten berbau pornografi. Pengawasan aktif mutlak diperlukan sebagai tindak pencegahan. Orangtua, guru dan sekolah harus memberikan bimbingan sesuai kesiapan individu.

Pemerintah merupakan salah satu kunci penting dalam pengendalian jaringan internet. Dengan kekuasaannya pemerintah bertanggung jawab mendidik dan mengawal generasi masyarakat dalam pemanfaatan internet. Beberapa langkah sudah diambil pemerintah selaku pemegang kebijakan. Pasal 27 ayat 1 UU nomor 11 tahun 2008 tentang ITE jo pasal 45 ayat 1 UU ITE merupakan beberapa pasal yang mengatur lalu lintas informasi dunia maya. Sebenarnya dalam tindakan antisipatif Indonesia masih kalah berani dari China. China, dengan lebih dari 500 juta pengguna Internet, merupakan pengguna Internet terbesar di dunia. China menetapkan untuk memblokir beberapa Social Networking Sites (SNS) karena ketakutan terhadap stabilitas negara, akibat isu-isu sensitif negara yang diekspos di jejaring sosial. Perusahaan-perusahaan teknologi China kemudian menawarkan teknologi serupa untuk bisa digunakan warga China dan bisa diawasi oleh pemerintah. Positifnya, China juga memblokir konten pornografi dengan penyaringan yang sangat ketat. Keberanian inilah justru tidak dipunyai Indonesia yang notabene adalah Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Amiruddin Fahmi
Baca Selengkapnya...

04 April 2012

Filosofi Sepakbola Banci, Kunci Sukses Barcelona Era Guardiola (1)


Sepakbola adalah salah satu olahraga terpopuler di seluruh dunia. Hampir seluruh lapisan masyarakat dunia menggandrungi cabang olahraga yang tidak mengenal status sosial ini. Karena pluralitas sepakbola yang tidak mengenal batas dan melewati segala sekat inilah sepakbola bisa dinikmati, diamati dan diterapkan masyarakat dunia. Unity and respect. Batas agama, ras kesukuan, status sosial, kulit putih dan kulit hitam, bahkan jenis kelamin runtuh di hadapan keagungan sepakbola.

Dalam usianya yang sudah melewati rentang masa yang tidak pendek, sepakbola mengenal beragam filosofi yang mewarnai dan memperindah corak permainan serta memanjakan para penikmat sepakbola. Bukan hal baru jika kita membicarakan filosofi sepakbola. Bahkan sudah ada beberapa buku yang secara spesifik mengulas tentang masalah ini. Salah satu filosofi termasyhur adalah Total Football ala Belanda di era Johan Cruyff. Dia sukses merevolusi gaya bermain yang di eranya hanya menonojolkan kualitas fisik. Di bawah rezim kepemimpinannya, Barca dijadikannya penguasa Spanyol sebanyak empat kali berturut-turut pada 1991 hingga 1994. Prestasi tertingginya adalah ketika Barcelona merengkuh Piala Champions dengan mengalahkan Sampdoria yang kala itu diperkuat duo Italia, Gianluca Vialli dan Roberto Mancini, pada 1992. Tanpa dia, tidak akan ada Pep Guardiola atau Messi di muka bumi. Tanpa dia Xavi, Iniesta, dan David Villa hanyalah pemain-pemain sepakbola yang tidak cukup tinggi untuk bermain di kompetisi sepakbola. Rata-rata, mereka hanya mempunyai tinggi 171 cm (www.oktomagazine.com).

Filosofi inilah yang kini dianut oleh Barcelona saat ini di bawah kepemimpinan Pep Guardiola. Barcelona kini sukses menyabet predikat tim terbaik di dunia. Dalam kurun waktu tiga tahun Pep mengoleksi 11 trofi untuk Los Cules. Terakhir adalah Piala Super Spanyol yang mereka rengkuh tahun lalu. Tapi siapa sangka, di balik kesuksesan tersebut ada satu kunci keberhasilan mereka yang semua orang tahu meski tabu untuk menyebutnya secara eksplisit. Filosofi inilah salah satu kunci sukses mereka selain sepakbola indah menyerang ala Johan Cruyff. Ya. Saya menyebutnya Filosofi Sepakbola Banci. Agak berlebihan memang menyebut gaya para pria jantan dari Catalan yang piawai mengolah kulit bundar dan berhasil memukau dunia dengan sebutan menjijikkan seperti “BANCI”. Tapi apa lacur, gaya bermain merekalah yang membuat mereka pantas menyandang gelar memalukan tersebut.

Gaya bermain Los Cules memang sangat indah. Siapa yang tidak kenal Lionel Messi, Xavi atau Andres Iniesta. Nama mereka bergantian menghiasi daftar nominasi pemain terbaik Dunia. Sebenarnya dengan atau tanpa filosofi banci ini sepertinya mereka memang hebat. Tapi tanpa aksi menjatuhkan diri dan merengek atau berpura-pura sakit ini barangkali mereka tidak semudah ini menaklukkan dunia. Belum lagi jika ditambah dugaan konspirasi antara tim dengan UEFA, otoritas sepakbola tertinggi di Eropa. Sudah puluhan kartu kuning atau  bahkan ratusan yang diperoleh Barca berkat kelihaian mereka mempedaya pengadil lapangan dengan mempraktekkan filosofi ini. Laga-laga besar dan penting adalah fokus utama dalam praktek filosofi memalukan ini. Para lelaki sejati menjatuhkan diri dan merengek-rengek meminta perhatian dan belas kasihan wasit? Menipu diri dan menipu dunia?

Sergio Busquets, Dani Alves, David Villa adalah nama-nama yang terkenal dengan aksi divingnya. Nama yang pertama disebut adalah aktor utama keberhasilan filosofi ini. Satu-satunya nama yang harus disorot lebih. Melalui aksinya, kemenangan-kemenangan penting berhasil diraih Barcelona meski pernah juga aksinya belum mampu berbuah kemenangan untuk timya. Ingatkah anda dengan insiden kartu merah yang diterima Thiago Motta pada laga Inter vs Barcelona di semifinal liga Champions 2009-2010? Jika sudah lupa silahkan tengok rekam ulangnya yang bisa anda dapatkan di situs Youtube. Aksi busquet berhasil membuahkan kartu merah atas Motta meski belum mampu membawa Barcelona ke babak selanjutnya. Terakhir adalah pelanggaran berbuah pinalti dalam laga perempat final liga champions melawan AC. Milan. Hanya dengan sedikit kontak dan tarik kaos, sedikit saja dan Busquets sukses membawa kemenangan bagi Barcelona. Tentunya dengan aksi menjatuhkan diri dan merengek yang indah dipandang mata. Banyak pula bukti yang diajukan para penikmat bola untuk menasbihkan filosofi banci ala Barcelona dalam bentuk video. Dengan mudah bisa anda unduh di situs youtube. Cari saja dengan keywords “Barcelona, cheaters, liers, actors”.

Jika tak ingin keindahan sepakbola rusak atau hancur, mari segera kita serukan regulasi atau aksi prihatin terhadap Filosofi Sepakbola Banci ala Barcelona. Jika boleh sedikit berasumsi, saya merasa bahwa filosofi banci ini tak lepas dari kejeniusan seorang Pep Guardiola.

Ulasan oleh: Amiruddin Fahmi, Penikmat Sepakbola

ingin tahu lebih banyak aksi diving busquet? cukup ketik di google search "busquets diving" n binggo! anda bisa lihat sendiri kehebatannya
Baca Selengkapnya...

27 November 2011

Home Alone, Pengalaman Tak Menyenangkan Melawan Maling Nekat



Malam ini adalah hari pertama pergantian tahun dalam Islam. Sudah 1433 tahun sejak momen bersejarah hijrah rasulullah saw. dari kota makkah ke kota madinah yang ditetapkan menjadi hitungan awal kalenderisasi islam. Alhamdulillah, islam masih terjaga eksistensinya di dunia yang terus berubah. Pertambahan tahun ini juga menandai bertambahnya usiaku yang kini menuju tahun ke 23 sejak aku dilahirkan. Angka yang sudah cukup banyak ini mengantarku beranjak dari fase remaja menuju fase pencarian diri. Meski sejatinya aku belum berhasil menemukannya.

Ya sudah, bukan aku yang hendak menjadi objek cerita kali ini tapi pengalamanku yang cukup menegangkan atau malah bisa jadi cukup mengerikan. Malam ini untuk ke sekian kali aku harus sendirian di rumah. Para penghuninya harus pergi dan meninggalkan aku sendirian. Bukan kali pertama memang karena ada alasan yang membuat penghuni rumah ini harus pergi dan pergi dan pergi lagi ke luar kota.

Sebenarnya ketika ditinggal aku tidak benar-benar sendiri karena banyak kawan yang bisa kuminta menemani kesendirianku. Tapi terkadang aku ingin menikmati kenyamanan dan ketenangan sepi jika belum sampai pada tahap membosankan. Dari beberapa kali pengalaman “jaga rumah” itu, ada satu peristiwa yang akan selalu kuingat karena berbeda dari biasanya. Tiga atau empat tahun lalu kejadiannya. Paling tidak pengalaman pertama ketika itu menjadi pelajaran jika lain waktu kejadian ini mungkin berulang.

Aku, saat itu tidak sendirian dan bersama satu orang teman. Seperti biasa, aku jalani malam itu layaknya kebanyakan orang. Menghabiskan waktu di depan layar kaca, mengobrol bersama beberapa kudapan ringan. Untuk menemani, kumasak pula satu teko air panas guna menyeduh dua gelas kopi dan selebihnya buat persediaan nanti. Dan kurasa malam itu akan menjadi malam begadang yang santai dan mengasyikkan.

Waktu pun terus berjalan, tak terasa sudah melewati tengah malam. Aku masih sangat ingat, acara televisi yang kutonton saat itu adalah duel gulat yang sedang populer menjangkiti anak muda. Smack Down. Stasiun televisi yang menayangkannya adalah Lativi, edisi lawas yang sekarang berubah nama menjadi TV One. Karena sudah larut, kami pun memutuskan untuk akan beristirahat. Kebetulan belum shalat isya’, temanku pun lalu pergi mengambil air wudhu lebih dulu. Aku yang sudah shalat duduk santai di depan tivi. Beberapa saat setelah itu keadaan lalu berubah menegangkan. Tiba-tiba aku mendengar bunyi keras di bagian selatan rumahku, “Bruakk, Bruakk”. Ku hampiri temanku dan kubilang dengan sedikit berbisik dan cemas, “suarane opo iku?” (suara apa itu?). “yo mbuh, suarane opo” (nggak tahu suara apa). Kami pun mulai sedikit panik. Sempat terpikir untuk langsung saja keluar rumah melihat apa yang terjadi di luar. Barangkali itu “cuma” sekedar hantu, namun kuurungkan. Langkah gegabah akan membuat keadaan semakin rumit. Hanya 1% kemungkinan hal itu dilakukan oleh makhluk gaib atau hantu. Bunyi keras “bruakk” itu benar-benar nyata dan aku tak percaya hantu-hantu itu kurang kerjaan dan menghabiskan waktunya hanya untuk menjahiliku. Absurd. Aku pun berinisiatif mematikan menghidupkan lampu berulang-ulang. Bermaksud mengatakan, “pergi saja lah, rumah ini ada orangnya!”. Namun suara itu makin keras dan tak mau berhenti. Ku keraskan volume televisi agar terdengar dari luar namun tak merubah keadaan. “Bruakk, Bruakk”. Sial!

Bunyi itu berasal dari pintu pagar rumahku yang berbahan bambu. Melihat bunyi yang kudengar, kupikir takkan lama sebelum pintu itu jebol dan memberi celah untuk masuk bagian dalam rumahku. Memang masih ada pintu lagi sebelum sampai ke bagian dalam rumah, tapi jika menilik keseriusan maling itu, lebih tepat disebut rampok sebenarnya karena aksinya yang terang-terangan, sepertinya hanya menunggu waktu sebelum ia menemukan cara untuk sampai ke dalam rumah dan “bertatap muka” dengan kami. Dasar maling nekat kurang ajar.

Rumah kami memang menyendiri, sepi dan sunyi. Dikelilingi pesawahan dari depan, belakang, kiri dan kanan. Pantas jika aksi maling berisik itu tak sampai terdengar oleh siapapun termasuk tetangga terdekat kami yang berjarak sekitar 30 meter dan mungkin sedang tertidur lelap dalam mimpinya yang indah. Melihat reaksi yang kami berikan tadi tak menyurutkan langkah maling menyatroni rumah, kami pun bertambah panik dan berusaha berpikir tenang. Dari luar terdengar derap langkah kaki-kaki. Kukira jumlah mereka lebih dari satu, sekitar tiga menurut prediksiku. Temanku lalu berujar, “patenono ae lampune, ben ga’ ketok” (matikan saja lampunya biar kita nggak terlihat). Kuikuti instruksinya. Kumatikan semua lampu sedangkan temanku mencari benda keras untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Bertempur melawan maling. Kami pun menyusun strategi. Paling tidak kami punya satu kelebihan yaitu lebih menguasai medan apalagi dalam keadaan gelap gulita seperti waktu itu. Meski begitu, jauh lebih baik jiika itu tak terjadi. Dia maling, profesional, siap bertarung tentunya, atau mungkin dengan jurus kebalnya, persediaan senjata yang sekali tebas hilang tanganku, atau keahlian bela diri. Dan kami, dua anak muda yang bersenjata “pentungan” seadanya sambil berharap satu ayunan lemah tangan kami mengenai tengkuk si maling dan berhasil merobohkannya dalam satu gerakan. Karena jika harus berhadapan langsung, 70% kemungkinan hasilnya akan terlihat buruk yaitu kami akan tersungkur K.O.. Benar-benar situasi genting, gawat, DARURAT.

Detik-detik berikutnya semakin mendebarkan. Aku bersiaga di bagian selatan sambil melihat ke atas mewaspadai jangan-jangan maling itu masuk dari atap rumah. Temanku di sebelah barat berdiri di balik pintu dan berlagak seperti polisi penyergap. Konsentrasi penuh dan bersiap mengumpulkan seluruh tenaga dalam satu ayunan pertama yang cepat dan tepat. Dua tangan kami menggenggam erat-erat pentungan, napas yang memburu, bicara pun tergagap-gagap. Secara psikologis kami memang sangat takut, gugup dan panik, but the show must go on. Tanganku pun sudah kuayun-ayunkan seakan latihan dan pemanasan. Suasana hening sesaat dan mencekam. Telinga kami pasang sebagai radar untuk menangkap setiap gerakan dan gesekan dari luar. Tiap detik terasa begitu lambat benar di malam itu.

10 menit setelah lampu dimatikan, gedoran itu terhenti. Sepertinya maling itu mengganti strategi. Mereka memutar ke belakang atau selatan rumahku mencari celah. Kami tahu itu dari bunyi langkah kaki mereka. Kami juga mencari cara dalam kebingungan total untuk meminta bantuan. Untunglah handphone sudah diciptakan oleh penemunya. Segera kuraih handphone itu dan melihat nama-nama sosok yang bisa “diganggu” dan dimintai tolong. Bukan sosok pengecut yang jika mendengar nama maling nyalinya malah surut. Setelah kupastikan bahwa keributan itu berasal dari orang yang berniat buruk, barulah aku berani mengganggu tidur nyenyak orang lain. Konyol saja jika setelah ramai orang mendatangi rumahku dan ternyata hanya suara hewan malam atau makhluk tak jelas dan label pengecut pun akan melekat selamanya pada diriku sebab kejadian itu. Kulihat daftar nama di kontak handphone flexyku. Kuharap masih ada pulsanya dan bisa buat telepon. Kuurut beberapa nama dan sampailah pada satu nama yang sangat kuingat pasca peristiwa ini, “gus basith”. Kuingat kata abahku bahwa orang ini suka bangun malam. Sepengetahuanku ia juga sosok berani dan bisa diandalkan dalam situasi ini. Langsung saja kutekan tombol bertanda “call”. Tuut.. Tuut.. Tuut.. Kuharap suara di ujung sana mendapat sambutan. Jantungku masih terus berdebar. Sejurus kemudian harapanku pun terkabul, “halo, assalamualaikum..”, ujar suara tegas di seberang telepon. Terima kasih tuhan, kau masih merahmatiku. Dengan gaya bicara yang benar-benar gugup dan terbata-bata kusampaikan saja bahwa rumahku sedang disatroni maling. Kuharap ia akan percaya dan segera mengambil tindakan karena terselip kekhawatiran di benakku bahwa pernyataanku akan dianggap ocehan anak kecil. Masih terekam jelas di otakku bahwa saat itu ia hanya menjawab racauku dengan singkat, “nggih.., nggih..” pada tiap akhir kalimatku. Selesai menelepon bantuan, aku lalu menghubungi abah, kukabarkan pada beliau, bahwa sekarang rumah kita sedang diincar maling. Abah lalu bilang dengan tenang, -aku heran plus pegel, keadaan segenting ini kok ditanggapi setenang itu- “sing akeh moco sholawat..” (perbanyak baca sholawat..). Dalam hati ku menggugat, “hah.. sholawat?! Ini maling di depan mata kok malah disuruh baca sholawat”. Tak puas dengan jawaban yang ada aku melanjutkan dengan bertanya, “ teng nginggil lemari wonten keris, kulo pendet nggih..” (di atas lemari ada keris, saya pakai ya..). Aku bermaksud memanfaatkan keris yang tersimpan lama tak tersentuh sebagai senjata. Seperti dalam buku sejarah, sepertinya keris cukup ampuh dan mematikan sebagai senjata terlepas dari bentuknya yang unik dan terlihat tak mematikan. Tapi dalam gambaran cerita kerajaan jawa jaman dulu, sepertinya keris lah senjata utama raja, patih, dan senopati jaman kuno jadi kupikir akan baik jika memanfaatkannya dalam kesempatan ini. Njajal, mumpung ada kesempatan. Keris itu ceritanya adalah kiriman untuk abah yang didatangkan dahulu waktu ada peristiwa Ninja yang sempat menghebohkan bagian timur pulau jawa di tahun 1998. Entah siapa pengirimnya. Saat itu keadaan juga tak kalah mencekam hanya saja rumahku tetap terasa aman karena sekeliling rumah dijaga puluhan orang. Tapi apa jawab abahku waktu kuminta ijinnya memakai keris sebagai senjata? “ora usah, engko malah negene’i awake dewe..” (Tidak usah, nanti malah mengenai kamu sendiri). Ah.. Pupus sudah harapanku bersenjata keris “sakti” itu. Nekat mencobanya pun aku tak berani. Terlalu beresiko jika mendengar peringatan abah. Keadaan masih mencekam dan kami pun lalu menunggu bantuan dengan harap-harap cemas sambil komat-kamit baca sholawat puluhan kali.

Dalam pada itu, si maling berubah lebih tenang dan main halus. Mereka merubah strategi lagi menuju belakang rumah yang relatif lebih rapuh. Bagian belakang rumahku yang berfungsi sebagai dapur berlainan ruangan dengan bagian inti rumah dan disekat satu pintu. Jadi ada dua pintu yang harus ia lewati sebelum bisa menjangkau kami, pintu terluar dan pintu dalam. Sayangnya pintu dapur itu engselnya tidak kokoh. Dalam hati, jika ia berhasil masuk dapur akan kubiarkan saja dia di sana. Ambil saja kompor, rice cooker, blender, pompa air atau apa saja yang di situ dari pada harus mempertaruhkan nyawa melawan mereka demi barang-barang itu. Bukankah kenekatannya sudah terbukti sejak awal mereka beraksi? Bagaimana jika mereka langsung menebas kami ketika berhadapan tanpa belas kasihan? Hoho. Aku masih muda dan tak mau mati mengenaskan lalu masuk koran karena bernasib naas. Dari dalam rumah aku mendengar gerakannya mencongkel sedikit demi sedikit pintu belakang dan kami hanya bisa terpaku menunggu. Tak ada yang bisa kami perbuat lagi selain itu. Paling tidak masih ada satu pintu lagi sebelum mereka mencapai tempat kami di dalam. Dan kuharap bantuan telah datang sebelum itu benar-benar terjadi. Malam yang menegangkan sangat.

10 menit berikutnya, terdengar deru sepeda motor melintas di kejauhan. Aku berlari ke bagian depan rumahku dan mengintip dari balik tirai. Kuharap ia akan berbelok masuk ke gang tempat kami berdiam dan itulah bantuan yang sedari tadi kami nanti. Sepeda motor itu semakin dekat dan akhirnya benar masuk ke pelataran rumah kami. Pengendaranya dua orang, satu orang begitu sampai langsung turun, menghunus pedangnya yang terlihat berkilat sambil membawa senter. Ia lalu menghilang ke sisi kanan rumahku lalu muncul lagi dari sisi kiri masih dengan pedang terhunus. Temannya masih bersiaga di depan. Mereka pemberani, terlihat dari sorot mata dan bahasa tubuhnya. Sepertinya mereka terlatih menghadapi situasi seperti ini. Aku masih di balik tirai dan baru keluar begitu tatap mata kedua orang itu terihat tenang, berbicara santai sejenak dan itu berarti “sudah aman”. Huh.. Berakhir sudah drama menegangkan selama sekitar 30 menitan itu.

Aku dan temanku lalu keluar menyambut pahlawan kami. Tak lama kemudian tetangga berdatangan menuju rumah kami. Sepertinya ada yang sudah menghubungi mereka. Beberapa ibu terlihat histeris, menghampiriku, dan berkata, “mboten nopo-nopo ta, mas..?”(nggak kenapa-kenapa kah, mas?). Ibu yang lain meminta ijin masuk ke rumah menyiapkan kopi untuk pria-pria yang ramai seketika. Aku dan temanku terduduk syok tersebab baru saja melalui peristiwa yang tanpa diduga menimpa kami ini. Pagi harinya kulihat pintu-pintu itu sudah sedikit rusak akibat usaha mereka. Salah satunya malah sudah tembus dan aku lega bisa melalui semua dengan selamat. Andai maling itu berhasil menerobos masuk. Andai kami sempat berhadapan. Andai kami mengambil keputusan yang salah. Untunglah semua itu tak terjadi sebab barokah sholawat yang kami rapal berkali-kali pada saat peristiwa itu berlangsung. Sempat ada trauma setelah kejadian itu. Tidur tak pernah nyenyak jika mendengar suara-suara malam. “Bakk”, suara mangga jatuh. “Bugh”, suara kelapa jatuh. Dan aku selalu terbangun demi menyangka itu suara maling lagi. Namun lambat laun trauma itu hilang juga. Aku dapat satu pelajaran, trauma yang sebelum itu hanya kubaca di buku-buku dan aku masih meragukan bagaimana rasanya trauma, ternyata benar-benar nyata.

1 Muharram 1433 Hijriyyah, 25 November 2011, 18.19

oleh “arek ilang urung nemu dalan”, aweh jejuluk amiruddin fahmi, semoga semua harapannya di tahun baru ini dapat terwujud. amin.
Baca Selengkapnya...

10 November 2011

Tak Ada yang Bisa Melarangku Bermimpi..




Malam ini adalah malam yang belum pernah terlintas di pikiranku. Mungkin ini terlihat remeh. Tapi apa yang baru saja terjadi telah membuka luas-luas pikiranku akan satu hal baru. Jendela baru. Dunia baru. Perubahan besar pun terjadi dalam mindsetku. Hem hem hem…

Yah. Aku akan mulai bercerita. Terserah ada yang baca atau tidak, ada yang dengar atau enggak. Ada yang perhatikan atau tak ada. Bukan satu masalah. Baiklah. Akan kumulai. Sekarang.

Ahad malam senin, majalah pesantren tempatku menjalani hidup 5 tahun terakhir akan segera selesai. Softfile yang sudah berkali-kali diteliti, diperbaiki, diubah lalu diperiksa lagi pun sudah mencapai garis finish. Sempurna, sesuai standar rendah kami tentunya. Aku pun berniat mengantarkan file itu ke percetakan yang ada di Surabaya. Sayang, editing terkahir ternyata sedikit molor dari perkiraan. Jam 11.30 baru selesai total. Walhasil, saat itu juga aku harus berangkat dari Raci menuju Surabaya. Tepat di tengah malam bersama satu temanku. D uh.. tak terkira rasa kantuk menggelayuti mataku..

Tujuan pertama adalah rumah teman dan musuh terbaikku, Sayyid Syafiq alaydrus yang terletak di Sepanjang, Sidoarjo. Alasannya, tentu saja percetakan mana yang masih buka tengah malam begitu. Kebetulan ia sedang di rumah, sepulang dari Makassar. Biasanya, sehari-hari ia tinggal di kantor majalah bersamaku. Dia, menurutku, adalah sosok yang istimewa. Aku sangat menyukainya. Lain kali akan kuceritakan tentangnya lebih detail lagi. O ya. Dia masih perjaka lo, available. Ha ha ha. Hm.. Sampai di sana langsung saja kurebahkan badan. Tidur pulas sampai pagi. Puasss.

Pagi-pagi terbangun dengan sajian khas untuk tamu. Secangkir teh panas dan jajanan hangat lain menemaniku menyambut pagi dengan ceria. Biar tak panjang lebar juga capek nulisnya, langsung saja ke inti cerita. Jam enam petang aku harus mengantar file majalah ke percetakan. Jarak rumah temanku dan tempat tujuan lumayan jauh. Yang lebih penting, perjalanan ini akan membelah jantung kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia, kota Pahlawan, kota Surabaya. Istimewa.

Biasanya, aku selalu berada di belakang jika harus berkendaraan motor. Jam terbangku berkendara memang minim. Tapi kali ini berbeda. Tanpa dinyana, temanku mempersilahkan aku duduk di depan menjadi joki. Wow! Langsung kusambar kesempatan perak ini dan kusanggupi permintaannya. Seumur-umur, aku yang cah ndeso udik ini belum pernah berkendara sendiri di tengah kota. Kakiku memang pernah menjejakkan langkah sampai ibu kota Jakarta, karena jiwa petualangku yang pernah sekali waktu mendapat ruang. Tapi itu dengan kendaraan umum. Sekarang aku harus menaklukkan jalan raya, dengan kepadatan tinggi, pada jam pulang kerja yang pasti dijejali kendaraan roda dua, empat, bahkan enam. Kesempatan emas!

Pengalaman pertama memang berbeda. Sensasinya takkan pernah terjadi untuk kali kedua. Debut memang selalu mengesankan! Di tengah jalan aku harus memusatkan konsentrasi, memelototi jalan, berzig-zag ria. Seru habis. Jika anda belum pernah merasakan sensasi memiliki jarak satu senti saja lagi dari kematian, kau harus mencobanya. Temukan itu hanya di jalan raya, bro! saat paling menegangkan adalah ketika jarak antara satu sama lain hanya puluhan senti. Lalu lintas padat merayap, dan anda harus mengejar waktu. Menyeberang jalan ramai, menyalip satu sama lain dan menyusup dalam keramaian. Semua aktivitas jalan raya membutuhkan ketelitian, ketepatan perkiraan dan kontrol kecepatan. Salah sedikit, lengah atau teledor, hohoho, nyawa anda taruhannya, bung.

Melewati gedung besar dengan berkendara sendiri rasanya sungguh berbeda. Aku merasa benar-benar “melewati”nya. Menaklukkan medan dan menguasai jalan. Dalam keadaan itu, otakku pun mulai berpikir, mulai menerawang, mulai berfantasi. Andai saja yang aku lalui ini adalah jalan-jalan di perancis. Menaklukkan kota paris. Menikmata panorama eksotis menara Eiffel yang tersohor. Huh.. aku pun mulai bermimpi, mimpi indah, yang sungguh menyenangkan. Senyum pun tak pernah berhenti dari wajahku. Ha ha.. Indahnya duniaku..

Saat itu, aku berpikir, andai aku lepas dari sangkar, tak ada beban yang disanggah pundakku, kebebasan aku dapatkan, aku berjanji, aku berjanji pada diriku sendiri, akan kutemukan jalan menuju paris. Akan kulalui jalanan di sana. Dan aku takkan berhenti sebelum sampai di sana. Aku berjanji akan kulakukan apa saja, tentu saja dengan cara yang benar, untuk bisa menapakkan kaki ringkihku nun jauh disana. Aku yakin, aku tahu aku bisa.

Usiaku sudah lebih 22. Tak ingin rasanya melepaskan masa lajang sebelum asaku terpuaskan. 5 tahun lagi atau 10 tahun lagi aku harus menikah, aku tak pernah tahu. Selama ini memang kubiarkan masa depanku dalam teka-teki. Dalam spekulasi. Dalam mimpi-mimpi. Kau takkan tahu beban yang menghimpitku. Sulit dijelaskan dan mungkin hanya bisa dirasakan sendiri. Sungguh rumit, kawan. Aku tahu semua belum berakhir. Akan kucapai, akan kugapai, akan kuraih semuanya tanpa ada yang harus dikorbankan. Itu harapanku. Dan kurasa itulah yang membuatku selama ini harus tertahan. Terkurung dan terpenjara dalam sangkar. Untuk memenuhi harapan orang-orang yang sama sekali tak ingin aku kecewakan. Dilema besar. Masalah besar. Tantangan besar. Tapi ketahuilah, aku suka tantangan.

Ada beberapa skenario yang sudah aku siapkan untuk hidupku. Aku bersyukur bisa memiliki banyak pilihan untuk hidup. Hanya saja, seiring waktu yang terus berjalan, pilihan itu pun semakin sempit. Tak apa, aku punya prinsip tak akan menyesali apa yang sudah aku putuskan dan aku pilih. Menurutku itu adalah jalan seorang lelaki. Jika aku gagal memenuhi harapan pribadiku, aku masih bisa meraihnya dengan cara lain. Memang, dalam hidup harus ada skala prioritas dan itu berarti aka nada mimpi yang harus dikorbankan jika tak bisa digapai semua. Tapi aku punya harapan baru yang takkan bisa padam. Akan kuwariskan mimpiku kepada siapapun yang bisa mewarisinya. Akan kulanjutkan misi hidupku kepada orang-orang setelahku. Sampai nanti aku harus menutup usia ini, menghentikan napas yang telah Dia beri untukku. Tak ada yang bisa menghentikan aku untuk terus bermimpi.

Ditulis dalam keadaan sangat lelah, pundak pegal dan mata berat. Tapi hati sedang senang. Oleh amiruddin fahmi.
1 November 2011
Baca Selengkapnya...

19 Oktober 2011

Dilema Ariel-Luna Maya


4 Juni 2010, masih lekat di ingatan kita ketika untuk pertama kalinya sebuah video berisi adegan orang dewasa dengan dua publik figur sebagai pemerannya terkuak dan diekspos besar-besaran oleh berbagai media cetak maupun elektronik. Ya, bad news is good news. Berita ini menjadi headline berbagai media dan topik utama tajuk news di layar kaca sampai-sampai menjadi Trending Topic di situs jejaring Twitter, sebuah situs dengan skala internasional sebanding dengan fenomena Justin Bieber pelantun tembang mega hits Baby yang sangat booming di amrik dan juga pernah menjadi trending topic di situs yang sama.

Ironis memang. Video ini muncul ketika kedua pemeran yang mirip dua pasangan selebritis itu atau asli jika berpijak pada pendapat Roy Suryo, saksi ahli yang ditunjuk Polri untuk memeriksa keaslian video tersebut, tengah berada pada puncak popularitas. Terbukti dua sejoli ideal ini didapuk menjadi bintang iklan sebuah produk sabun ternama sebagai pasangan, sehingga secara otomatis mengundang keingintahuan siapapun yang mendengarnya, berlarut-larut, dikupas dari berbagai sudut dan sisi, menimbulkan pro dan kontra, tragis dan dilema, memanggil rasa iba karena jelas insiden ini akan menghancurkan karir yang telah mereka rintis dari titik nol, mencapai puncak lalu tersungkur jatuh di titik nadir, dan memang itulah reaksi yang paling tepat, yaitu menentang dan boikot karena jika tidak begitu maka generasi muda bangsa yang telah terlanjur tahu akan mengartikan diam no reaction sebagai tindakan setuju, tanggapan permisif, lalu tanpa sungkan diam-diam atau bahkan terang-terangan menirunya.

Entah darimana asalnya, video yang seharusnya sangat privat justru menjadi konsumsi umum tersaji di ranah internet, dunia tak terbatas yang bisa diakses dan diunggah oleh siapa saja dimana saja tanpa ampun menyebar luas dan menjadi perbincangan hangat setiap komunitas dan lapisan masyarakat bahkan menjadi topik dan perbincangan para praktisi hukum dan jenderal berbintang mengingat masalah ini mempunyai implikasi yang sangat luas jika tidak ditangani dengan serius. Degradasi moral bangsa yang telah susah payah dijaga para pendahulu dan kini menjadi tanggung jawab kita dengan susah payah akan menjadi taruhannya.

Untunglah elit bangsa ini tidak main-main menyikapi kasus ini. Fakta di lapangan, praktisi hukum, dengan yuridiksinya telah mengusut dan mencari siapa pihak yang bertanggung jawab atas kejadian ini dan mulai menemukan titik terang meski palu belum pula diketuk. Pejabat eksekutif pun tak ingin ketinggalan, walikota tempat pemeran pria bermukim, Bandung, telah mencekal hak manggung di daerahnya juga mencabut hak kependudukan atau KTP. Beberapa daerah lain juga ikut memboikot sang vokalis sebuah grup band ternama ini. Berbagai kecaman juga datang dari berbagai ormas terutama yang berbasis islam menandakan bahwa masyarakat masih peduli akan masa depan bangsa yang sedang terancam tergerus budaya barat. Tindakan tegas memang diperlukan untuk membentengi moral sebagai identitas bangsa kita karena jika tidak ditangani dengan serius akan muncul video serupa mungkin sampai batas yang tidak terpikirkan saat ini seperti legalisasi maksiat-maksiat untuk dipertontonkan dan disajikan kepada khayalak luas.

Kesalahan paling fatal adalah kenapa video ini yang katanya dibuat untuk koleksi pribadi bisa jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab. Apapun motifnya, iseng, atau memang sengaja menjatuhkan yang jelas kejadian ini punya dampak negatif lebih luas dari tujuan awalnya dan barangkali diluar perkiraan si penyebar video sendiri. Kalau kita mau berpikir, secara logika tidak mungkin koleksi pribadi tersebut bisa sampai ke tangan pelaku penyebaran jika tidak punya hubungan langsung dengan pemilik koleksi. Yang pasti, pemilik video tersebut sengaja atau lalai menjaga barang yang benar-benar harus ia jaga, meski sepertinya kemungkinan lalai lebih kecil dari yang pertama.

Berbicara tentang kasus ini bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi, tindakan memang diperlukan karena tidak mengambil sikap atau diam tanpa menanggapi mungkin akan disalah tafsirkan sebagai sikap setuju atau taqrir diikuti dengan taqlid atau keberanian menirunya. Tentu dengan catatan tidak membicarakan yang tidak perlu tapi diarahkan kepada tindak antisipasi dan menanggulangi dampak negatif dari kasus ini. Tapi di sisi lain, fakta yang belum sepenuhnya terungkap akan membawa kepada ghibah atau fitnah jika ditinjau dari perspektif syari'ah dan sumbangsih menyebarkan hal buruk.

Melihat dua sisi diatas, lebih tepat jika urusan ini dikembalikan kepada niat orang tersebut. Apalagi membicarakan kedzaliman masih mendapat toleransi jika bertujuan menjauhi perbuatan nista dengan mempertimbangkan berbagai aspek lain seperti lawan bicara yang tepat dan isi pembicaraan yang tidak melenceng dan hal-hal lain yang melingkupinya.

Problem ini memang dipenuhi situasi dilematis. Kecaman dan boikot akan membuat masyarakat kehilangan figur seniman yang telah lama menghiasi ranah hiburan tapi tindakan tegas memang diperlukan. Lebih baik menyisihkan kepentingan pribadi daripada moral bangsa yang menjadi tumbal. Belum lagi pembicaraan yang terus mengalir menimbulkan dilema baru antara ghibah, menyebarkan keburukan dan menunjukkan kepedulian dan ketidaksetujuan terhadap hal ini. Semoga kejadian ini tidak menjadi titik awal kemerosotan akhlak dan hilangnya budaya ketimuran berganti budaya barat yang permisif di masa mendatang.
Baca Selengkapnya...

29 Juli 2011

kumpulan kata-kata bijak V


Fahmi Amiruddin Zaini
jauh.. sangat jauh..
tapi, aku akan berlari
akan ku susul, akan ku salip mereka..

Fahmi Amiruddin Zaini
Dengerin Istara Fm . .inget masa itu..
Jadi.. ingin jatuh cinta, lagi,,;)

Fahmi Amiruddin Zaini
Aq trlanjur terlibat dlam prmsuhan yg mnyenangkn..
That's a fun fight . .
Seru ! !
Melalui musuh, trkdang Allah mengoreksi ksalahan kita . .

Fahmi Amiruddin Zaini
besok, aku harus kembali lagi ke rutinitas.. yang smoga bisa kunikmati, dan kurangkul mesra..
dan, berakhir sudah rangkaian tur silaturahim yang menyenangkan . .
lebih baik, ucapkan 'selamat datang' untuk hal yang tak bisa kau hindari , ,
semoga saja mereka menyambutku..

Fahmi Amiruddin Zaini
hidup cuma bentar, golek sangu, untuk perjalanan yang jauh jauh lebih panjang,,
robbi waffiqni lima yurdhik..

Fahmi Amiruddin Zaini
Alhamdulillah..
Ana udah bs wawancara habib riziq syahab, ktua umum FPI.. Silahkn bc hasilny d al-bashiroh edisi safar bln dpan..
Ashab smua, ana minta doany..
24 Desember 2010 jam 19:22 melalui Facebook Seluler

Fahmi Amiruddin Zaini
banyak proyek..
semoga semua berjalan lancar dan berakhir dengan baik..
amin...
22 November 2010 jam 11:09

Fahmi Amiruddin Zaini
balik ma'had..
mencoba menikmati hidup dalam tempurung,,
lalu kapan aku bisa terbang tinggi???
03 Oktober 2010 jam 0:23 ·

Fahmi Amiruddin Zaini
Intens liat metro, pngen jd advokat, menantang, seru..
Eh bkn, jd presiden.. Hihihi
Indonesia, Negara Besar dg jutaan problem..
23 September 2010 jam 19:49 melalui Facebook Seluler

Hapus Kiriman
Fahmi Amiruddin Zaini
Seseorang akan mengalami masa kritis mengenai keyakinan akan eksistensi Tuhan
jika ia brhasil melewati fase itu dg baik, dia akan mampu menikmati hidup

yah, begitulah
kalo cewek blum resmi punya anda, jangan salahin orang deketin!!
dia juga punya hak memilih kan!?

Fahmi Amiruddin Zaini
Allahummarhamni..
waj'alit tawadhu'a fi qolbi..wala tathrudni biwadh'it takaburo fi qolbi,,
fala taj'alni minal mutakabbirin . .
Amin . . .

Fahmi Amiruddin Zaini
Kmbali kpd rutinitas yg "mboseni" after break yg trasa "singkt" bngt..

Let's enjoy our life..

Fahmi Amiruddin Zaini
Just love, u'll know the reason why you have to..
Love inspire to be someone better, to be d best, to reach n try not to let what you love runaway..
All for love, love for all . . .
Fahmi's said:
Surabaya, 06:26 11-09-2010

Fahmi Amiruddin Zaini
Masuk dunia lain . .
Mbuled, g seneng aq..
Kudu sungkem, ndingklu'2..
Gus iki, gus iku, ga gus2an uez..
Mboh..
10 September 2010 jam 20:49 melalui Facebook Seluler

Fahmi Amiruddin Zaini
Dirinya , , .
Dirimu , , .
Tergila-gila padaku . .
Hehehe

dangdut nostalgia,, i like it . .

Fahmi Amiruddin Zaini
I love myself . . .
Thanks god,, for all . .
07 September 2010 jam 21:10 melalui Facebook Seluler · Privasi:Teman dari teman · SukaTidak Suka ·

*
*
*
o
Nur Hanifansyah ujubbb ^o^
08 September 2010 jam 15:21 · SukaTidak Suka
o
Fahmi Amiruddin Zaini Hny mncoba brsyukur n brpuas dri..
Biar g dkuasai rasa iri..
Jgn suka make kcamata hitam..n try to love your own self..hehe
08 September 2010 jam 16:18 · Tidak SukaSuka · 1 orang
Baca Selengkapnya...

kumpulan kata-kata bijak IV


Fahmi Amiruddin Zaini
Secara realistis, mgkn aku hanya bisa mlihat fotonya sambil senyum-senyum sendiri.. Duh, ayune arek iki..
Ya. Mengharap pun aku tak berani

Fahmi Amiruddin Zaini
Soekarno. Mungkin orang skarang tak ada lagi yang mengenangny..
Sosok luar biasa yang entah apa yang orang tahu tentangnya.. Hanya proklamator, dan presiden pertama?
Soekarno, aku merindukannya . .

Fahmi Amiruddin Zaini
Berdebat. Mghadapi si pintar, aku pasti kalahkan dia.
Mghadapi si bodoh, pasti dia yg kalahkn aku."
Imam Syafi'i

Fahmi Amiruddin Zaini
sesekali, jika kita terlilit ksulitan hidup, luangkan waktu dn pkiranmu..
lihatlah ke bawah..
Masih bnyk mereka yg dtimpa ksulitan yg jauh lbh sulit.. Mgkn, itu akan mbuat ksulitan yg mghimpit, sdikit lepas dr pkiran kita..
Alhamdulillah . .

Fahmi Amiruddin Zaini
Status terakhirku . .
Hiks hiks
bentar lg back to ma'had, wihout a handphone
get pray for us . .

Fahmi Amiruddin Zaini
Menghadapi orang bodoh selalu lbh sulit drpd menghadapi orang pandai . .

Fahmi Amiruddin Zaini
I want to fly
but something holding me to be higher

Fahmi Amiruddin Zaini
Saudara, Hidup adalah pilihan..
tuk yg msh muda, segera tntukan tujuan setinggi mgkn, lalu brusaha meraihny dg sgenap kemampuan..
Untuk hidup yg lebih baik. Untk masa depan yg menyenangkan. Untk masa tua yg menenangkn . .

Fahmi Amiruddin Zaini
Anak yg tidak brbakti? Jangan-jangan anda bkn orangtua yg baik.
Pahami anak anda dg benar, jgn selalu ingin dipahami org lain..

Fahmi Amiruddin Zaini
Alhamdulillah, senengny ana
hari ni rumahku dknjungi pngsuh Dalwa, Hbb Zen Hasan Bhrun dn pngsuh SunSal Hbb Taufiq Abdul Qodir Assgf.
Smoga barokah

Fahmi Amiruddin Zaini
Wah, ni orang pacaran sm adikq d depanq..
Ckckck
bkin iri aja..

Fahmi Amiruddin Zaini
Pernahkah anda brtemu orang yg "ingin tinggi dg menginjak orang lain"?
Jika ya, maka.. yakinlah bahwa ia hanya bisa melihat anda terbang dari bawah...

Fahmi Amiruddin Zaini
Tuk seorang kawan:
Untuk terlihat pintar, tidak harus dg bahasa yg tidak mudah dimengerti dan berbau ilmiah..

Fahmi Amiruddin Zaini
jauh.. sangat jauh..
tapi, aku akan berlari
akan ku susul, akan ku salip mereka..
Baca Selengkapnya...

kumpulan kata-kata bijak II


Fahmi Amiruddin Zaini
Ya robbi,
Bil mushthofa, balligh maqoshidana
Waghfir lana ma madho,
Ya wasi'al karomi..

Fahmi Amiruddin Zaini
Smakin tertinggal rek
Koyoane, aq cuma bs mlihat mreka trbang tnggi dr bwah..
Siall . .
Trnyt ga enak emg trlhat tak brdaya,, tp apa yg kubisa?

Fahmi Amiruddin Zaini
Jubah wisuda, kq bs hilang y?
Duh, repot kalo hal spenting ini. bs bsar masalahny
Salah nitipin k orang, g amanah blas..

Fahmi Amiruddin Zaini
ini d inggris, orang msh prihatin dg etika remaja
smoga indonesia tdk lbh buruk..
Siswa Di-DO Akibat ML di Sekolah & Mencuri Wiski
kampus.okezone.com

Fahmi Amiruddin Zaini
Jangan trburu2 menyalahkan hny krna mereka brbeda..
Lihat lg, apa yg mbuat anda menylahkn mreka, dn pastikah itu sbuah ksalahan?..

Fahmi Amiruddin Zaini
ini ujian ato hukuman,,
mgkn perlu introspeksi diri..

Fahmi Amiruddin Zaini
satu tugas lg dn smua akan brakhir..
katak akan kluar dr dlam tempurung..
Lalu, pangeran pun akan mengembara menemukan putriny..

Fahmi Amiruddin Zaini
‎'becik ketitik, ala ketara'
hukum ini akan tetap slalu brlaku, jd yg baik jgn kuatir dg bnyakny suara sumbang..
yg buruk, tnggu aja, bkal trbongkar smua borokmu!

Fahmi Amiruddin Zaini
enjoying d conflict..
konflik hnya akan mbuat qt smakin dwasa.. So, don't be afraid..

Fahmi Amiruddin Zaini
Pngen k luar negeri..
Belanda, perancis, amerika, inggris msuk dftr g y? G wez..
Insyaallah..
Baca Selengkapnya...

28 Juli 2011

kumpulan kata-kata bijak


Fahmi Amiruddin Zaini
coba ingat, brapa kali anda tersenyum hari ini?
Jgn lupa, sambut orang lain dg wajah ceriamu dan, tersenyumlah utk dunia..
{Pasien Ini Sembuh karena Senyum
health.kompas.com}


Fahmi Amiruddin Zaini
Jika enggan mengambil
risiko, Anda tak akan pernah
kalah. Tapi tanpa berani
menanggung risiko, Anda tak akan
pernah menang.

Fahmi Amiruddin Zaini
teman, belajarlah dari kesombongan..


Fahmi Amiruddin Zaini
sang pemenang pun pada akhirny akan kalah

Fahmi Amiruddin Zaini
karna satu sebab, surat al-Falaq mjd surat al-Qur'an favoritku..


Fahmi Amiruddin Zaini
ajari aku utk tawadhu..


Fahmi Amiruddin Zaini
Coz you're amazing, just d way u are..

Fahmi Amiruddin Zaini
Aku takut mjadi tua, dg sgala beban dn tanggung jwb.. Hak dn wktu senggang yg terampas,,
Aku takut tk bs menikmati masa depan, yg tdk cerah malah justru beban berat..
Tapi, aku bkn pecundang kawand..

Fahmi Amiruddin Zaini
Entah aku hrus mperbaiki hbungan dn mngorbnkan harga dri serta egoku..
Atau aku hrus mpertahankn prinsip yg kupegang dn khilangan seorang sahabatku..
Yang psti dia tlah mmilh tuk mnjauhiku..

Fahmi Amiruddin Zaini
Pupus . .
Dlm hati pun aku menangis . . Senyum yg prnh trcipta kni sdh trhapus..
duh gusti.. buatlah hatiku ikhlas mengalaminy..

Fahmi Amiruddin Zaini
Smua trgantung bgmn anda mlihatny..
Orang baik yg kbtulan brbuat buruk, ato anak nakal yg hnya sdang brbuat baik..


Fahmi Amiruddin Zaini
jika suatu waktu kau butuh keadilan, hbungi aku..
Aku akan membantumu mendapatkannya..

Fahmi Amiruddin Zaini
for someone
haha, aku mulai menyukai hape ini..
Sony ericsson Cedar, thanks
this stat, dedicated for u all

Fahmi Amiruddin Zaini
ingin ngadain bedah buku ttg hizbut tahrir d dalwa
smoga trcapai

Fahmi Amiruddin Zaini
senang rasanya bisa berbuat ssuatu utk yg kucintai . .

Fahmi Amiruddin Zaini
Trnyta bgni rasany mata ga mau tidur karna bnyak pkiran..
Gmn y biar bs tdur?

Fahmi Amiruddin Zaini
Satu alasan lg mbuat aq makin brsyukur kpdny,, bs tidur tnang dg perut terisi..

Fahmi Amiruddin Zaini
misteri itu trjwab sudah,,
pantesan hidungku mancung.. pantesan diriku ini istimewa..
Baca Selengkapnya...

27 Juli 2011

Forum Independen Kreativitas Santri DALWA, Asa Besar Dimulai dari Satu Usaha



Alhamdulillah, setelah melalui pergumulan pemikiran yang panjang dan cukup melelahkan, akhirnya ide untuk membentuk satu forum berorientasi ilmiah di PP. Darullughah Wadda’wah ini terwujud juga. Aneh memang, di Pesantren besar dengan sarana yang bisa dikatakan “wah” untuk ukuran pesantren salaf apalagi didukung dengan sebuah perguruan tinggi, budaya ilmiah yang kompetitif dan produktif sama sekali belum terasa, atau jangan-jangan malah belum mulai.

PP Sidogiri saja tanpa mendirikan satu perguruan tinggi bisa menghasilkan orang-orang yang mampu bersuara di level jawa timur bahkan nasional untuk Islam, baik dalam pembelaan aqidah atau gerakan-gerakan bertendensi islami. Pun pondok Lirboyo. Pesantren yang masih kental aroma salafnya ini mampu mewajibkan santrinya membuat satu karya/penelitian -semacam skripsi, sebagai syarat lulus bagi siswa satu kelas di tahun terakhir! Kualitasnya? Jangan ditanya. Karya mereka yang rajin terbit tiap tahun selalu dipinang penerbit unggulan Indonesia. Untuk membuktikan, kunjungi saja percetakan mereka di Lirboyo. Sidogiri? Apalagi. Ini baru dua pondok yang saya kira cukuplah dijadikan pembanding.

Dengan adanya Perguruan Tinggi di sini, seharusnya banyak karya tulis yg terlahir dari tangan santri Pesantren ini, karya tulis yang menjadi cermin kualitas intelektual seseorang. Lihatlah, sebut saja satu nama imam besar dalam islam, Imam Nawawi misalnya, adakah mereka akan dikenal, dikenang dan diakui tanpa buah pikiran mereka yang tertuang dalam rupa kitab yang saat ini banyak kita baca? Karya mereka adalah tolok ukur kemampuan dan kapasitas ilmuwan. Tidak sedikit mereka yang hidupnya didedikasikan untuk ilmu pengetahuan. Nama yang tadi kita sebut adalah satu teladan yang bahkan melupakan indahnya menikah demi nikmatnya menulis dan berkarya.

Kenyataannya, di pesantren dengan kurang lebih 2000 santri, satu STAI dan beragam lembaga pendidikannya, tak satupun karya tulis ilmiah yang ditulis oleh santri. Fakta ini diperjelas ketika majalah pesantren kita, Al-Bashiroh, mencari anggota untuk mengisi pos penulis. Ternyata menemukan penulis “siap pakai” di pesantren hebat ini bisa dibilang sulit. Padahal regenerasi anggota, menggantikan mereka yang berhenti karena lulus atau sibuk di bidang lain barangkali, adalah sebuah keniscayaan. Artinya, orang yang kompeten dalam menulis sangat jarang atau mungkin saja ada namun belum terasah tajam. Maka, untuk peran itulah forum ini dibentuk dan diadakan.

Dengan kuantitas santri yang begitu besar, mungkinkah tak ada potensi, minat atau bakat, katakanlah menulis, yang bisa didapat di pesantren ini? Tentu saja pertanyaan ini tidak bisa terjawab jika belum dilakukan usaha untuk menjawabnya.
Pasti bukan hal mudah berdiri dengan memikul tugas ini sebaik-baiknya. Namun dengan keyakinan, kemauan dan kemampuan yang ada saya yakin cita-cita mulia membudayakan tradisi ilmiah di pesantren ini bisa terwujud. Dengan dukungan dan bantuan segala pihak tentunya. Pesantren kita bisa menjadi penghasil orang-orang hebat, orang-orang yang akan mengisi pos-pos penting di negeri ini. Akan lebih hebat dari tetangga kita Sidogiri yang tidak memiliki STAI dengan banyak buletin, majalah dan BMTnya, juga Lirboyo yang terlihat salaf (baca: kolot) namun dikenal dominan dalam penulisan karya ilmiah bermutu dan menguasai Bahsul Masail. Saya yakin kita semua bisa dan bukan hal mustahil. Semoga forum ini bisa menjadi langkah awal yang baik. Ingat, perjalanan sejauh apapun selalu dimulai dari satu langkah.

Rabu, 22 Juni 2011
Dengan penuh harapan untuk maju,
Amiruddin Fahmi, untuk Forum Independen Kreativitas Santri
Baca Selengkapnya...

21 Juni 2011

Catatan Pribadi, hb. Ali Baharun, Ihya Ulumuddin Dan Kamarku Yang Istimewa


Pagi yang cerah. Semalam aku tidur agak larut. Jam12 aku baru merebahkan tubuh yang terasa penat di atas ranjangku yang sedikit berantakan. Akibatnya bisa ditebak, aku pun bangun kesiangan. Hampir tertinggal 25 menit dari waktu shalat subuh. Beranjak dari ranjang, aku mengambil air wudhu dari kamar mandi terbaik di pondok. Ya. Kami patut bersyukur karena kamarmandi itu selalu bersih dan paling penting, selalu terisi dengan air. Di sini, tidak semua akan mendapatiair dengan mudah. Tahu kenapa? Karena aku tiggal di sebuah kamar yang merupakan kantor sebuah majalah pondokku. Kamar mandi itu selalu ada yang membersihkan dan berusha membuat air di situ banyak selalu. Alhamdulillah. Apalagi masuk ke situ tanpa melalui antrean yang hamper pasti akan dialami jika aku masuku ke selain kamar mandi ‘khusus’ itu.

Selesai dengan dua raka’at subuh dan wirid singkat, aku mendengar suara pengajian ustadzku, Hb. Ali Baharun, yang menerobos masuk melewati ventilasi kamarku dan menembus gendang telingaku. Pengajian dari ustadz itu memang selaluberbeda.

Pribadinya mencerminkan kehidupan sufistik. Mengingatkan kita akan gaya hidup para sufi di era keemasan Islam di bawah dinasti khilafah. Hobinya adalah mengaji, juga beribadah malam. Sangat menguasai kajian asketik karena tentu saja dia memang mengamalkannya di kehidupan yang sebenarnya, tidak seperti ustadz lain yang kadang apa yang ia ucapkan tak mampu ia amalkan hingga kurang mengena. Dia saja tak mampu menjalnkan, kok menyuruh yang lain mengamalkan. Mungkin itu yang ada di pikiran pendengarnya. Hb. Ali, merupakan salah satu guru favoritku.

Materi Pengajian di pagi itu adalah Ihya’ ulumuddin, opus magnum dari seorang ulam kesohor bergelar Hujjatu Islam, al-ghozali, yang menjadi acuan untuk ajaran sufi, dan diakui seluruh penganut Islam, setidaknya yang beraliran ahlussunnah wal jama’ah. Menerangkan tentang hubbuddunya, penjelasanny yang memikat membuatku tertarik untuk mengganti baju dengan baju taqwa, berjalan keluar di pagi yang dingin, waktu yang enak untuktidur beslimut, dan duduk di antara ratusan pendengar lainnya. Paling tidak utuk menyiram hatiku yang terasa keras agar sedikit dingin dan tidak terlalu jauh terseret arus Materialis yang menenggelamkan orang kebanyakan. Dan, usahaku itu ternyata manjur dan membuahkan hasil. Sebenarnya aku bisa saja hanya mendeengar pengajian itu dari dalm kamarku, karena antara masjid tempat mengaji dan kamarku yang hanya bejarak 25 meter. Namun ketertarikanku membuatku tak merasa puas jika hanya mendengar dari kejauhan. Hadir dan mendengar dari dekat paling tidak akan membuatku lebih berkonsentrasi menyimak apa yang guruku sampaikan.

Capek juga ngetik segini banyaknya. Pengennya aku nulis juga materi waktu itu. Share gitu. Tapi, lain kali saja lah. Aku mau istirahat dulu.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Pengen dilanjutin artikelnya, tapi keburu lupa apa yang mau ditulis, jadi cukup ini saja dulu..

By: amiruddin fahmi, si tampan, jenius, dan baik hati.. :)
Baca Selengkapnya...

05 Juni 2011

Reformasi PSSI, Untuk Sepakbola, Untuk Indonesia


Kiprah di indonesia di ajang sepakbola dua tahunan piala AFF 2010 yang mempertemukan wakil dari negara-negara yang tergabung dalam ASEAN menjadi sorotan seluruh elemen masyarakat Indonesia. Menjadi topik pembicaraan baik oleh para elit bangsa yang duduk di parlemen hingga masyarakat yang biasa duduk di warung kopi pinggir jalan. Ekspektasi masyarakat terlihat sangat tinggi untuk kemenangan timnas Indonesia meraih gelar yang berarti meraih supremasi tertinggi dalam olahraga yang paling digemari rakyat Indonesia. Konsentrasi publik terpusat pada segala gerak gerik yang dilakukan timnas. Dukungan pun mengalir dari berbagai pihak. Siapa yang tidak kenal Christian Gonzalez, seorang muallaf berasal dari Uruguay yang masuk islam pada tahun 2003 lalu dan kini sudah resmi menjadi WNI setelah menikahi istrinya dan menetap di Kediri, Jawa Timur. Pria 34 tahun ini dikenal sebagai sosok yang religius dan menaruh perhatian kepada agama barunya tersebut. Siapa pula yang tak kenal Irfan Bachdim, pemain naturalisasi asal belanda yang mendapat kewarganegaraan Belanda dan Indonesia karena memiliki darah Jawa dan menjadi idola para penggila bola dan kaum hawa. Popularitas mereka mampu melewati batas strata dalam lapisan masyarakat bahkan mampu menjangkau kaum hawa meski sepakbola adalah olah raga yang didominasi para pria.

Menarik untuk diperhatikan karena sepakbola terbukti efektif menyita perhatian seluruh elemen masyarakat Indonesia melebihi cabang olahraga lainnya. Apalagi jika membawa nama besar bangsa. Ada kebanggaan. Ada harapan. Ada fanatisme yang membuncah di benak seluruh warga Indonesia ketika menyaksikan punggawa timnas berlaga di kancah internasional mewakili 200 juta penghuninya. Semua ini menjadi saksi betapa besar keinginan, kebanggaan, dan harapan masyarakat Indonesia terhadap olahraga yang berasal dari Inggris ini mengalahkan cabang olahraga lainnya.

Di sisi lain, pemerintah sebagai pihak yang semestinya bekerja dan mengabdi untuk memenuhi harapan rakyatnya, terkesan kurang optimal dalam menangani kemajuan sepakbola dan gagal mempersembahkan prestasi yang bisa membuat masyarakat Indonesia bangga menjadi warga Indonesia. Pemerintah belum memaksimalkan potensi yang dimiliki negara dengan ratusan juta penghuninya. Indonesia, sebuah negara dengan nama besar , masih kalah oleh Thailand , Singapura dan Malaysia di level ASEAN, asosiasi negara-negara Asia Tenggara dan sekitarnya yang sebenarnya digagas oleh Indonesia. Aneh karena Indonesia merupakan negara besar dengan jutaan talenta-talenta yang belum tereksplorasi seluruhnya. Sebenarnya dimana kesalahan kita?
Kegagalan ini tidak bisa dilihat secara parsial dari seretnya prestasi timnas dan permasalahannya saja tapi juga harus dievaluasi dengan komprehensif. Meski PSSI, sebagai lembaga negara yang memiliki otoritas di bidang sepakbola sudah berulang kali berusaha mendatangkan pelatih yang berkualitas dari luar negeri, atau menerapkan naturalisasi pemain asing, tapi hal itu belum cukup menyelesaikan masalah ini. Ada hal lain yang semestinya lebih diperhatikan agar Indonesia memiliki pemain dengan skill dan mental yang berkualitas, yaitu kompetisi lokal yang menjadi ajang bagi tim-tim dari penjuru Indonesia berkompetisi. Di sinilah sebenarnya kualitas dan mental pemain kita diasah dan ditempa.

Paling tidak, ada satu hal penting yang perlu dilakukan oleh PSSI. Kompetisi yang digulirkan harus menjunjung tinggi fair play dan menggunakan sistem yang menguntungkan PSSI dan tim-tim peserta kompetisi. Pemberontakan klub peserta liga disebabkan ketidak puasan atas kinerja PSSI dalam mengatur keuangan dan sistem yang tidak objektif, berpihak pada mereka yang dekat dengan kekuasaan. Liga Premier Indonesia, liga baru yang digulirkan oleh klub-klub yang tidak puas akan system kerja dan kinerja PSSI merupakan bukti nyata kegagalan PSSI memoderasi sepakbola Indonesia. Bagaimana mungkin Indonesia mampu menghasikan pemain berkualitas dan bermental juara jika dihasilkan dari kompetisi yang tidak kondusif.

Perlu diperhatikan, prestasi tidak bisa didapat dengan instan, terbukti dengan kegagalan timnas menjuarai piala AFF meski sudah empat kali mencapai babak final. Ada sesuatu yang salah, ada hal yang harus dibenahi, yaitu mental juara yang belum kita punya.
Baca Selengkapnya...