Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biografi. Tampilkan semua postingan

01 April 2012

Ibnu Taimiyah Dalam Sorotan


Dahulu di zaman Rasulullaah SAW. kaum muslimin dikenal bersatu, semua berpadu di bawah pimpinan dan komando Rasulullah SAW. Jika terdapat masalah atau terjadi perselisihan pendapat antara para sahabat, mereka langsung datang kepada Rasulullah SAW, dan itulah  yang membuat para sahabat saat itu tidak sampai terpecah belah, baik dalam masalah akidah, maupun dalam urusan duniawi.

Kemudian setelah  Rasulullah SAW. wafat, benih-benih perpecahan mulai tampak dan puncaknya terjadi saat Imam Ali bin abi tholib menjadi khalifah. Namun perpecahan tersebut hanya bersifat politik belaka, sementara akidah mereka tetap satu yaitu akidah Islamiyah, meskipun saat itu benih-benih penyimpangan dalam akidah sudah mulai ditebarkan oleh ibnu Saba’, seorang yang dalam sejarah Islam dikenal sebagai pelopor ideology Saba’iyyah yang identik dengan Syi’ah. Pada waktu itu paham yang paling menyesatkan adalah mereka meyakini bahwa Ali bin Thalib adalah tuhan. Aliran mereka dikenal dengan Khattabiyyah. Para ulama tidak mengatakan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah tokoh fiktif, sebagaimana pendapat kelompok Syi’ah Imamiyyah Itsna ‘Asyariyah. Mereka cenderung melaknat Abdullah bin Saba’ yang seorang yahudi. Tentu saja sikap mereka ini dapat dipahami alasannya, yaitu pengakuan mereka akan eksistensi Abdullah bin saba’ secara tidak langsung akan menimbulkan persepsi bahwa ajaran mereka merupakan akulturasi dan asimilasi dengan agama Yahudi (Ashl al-Syi’ah Wa ushuluha hal 17, Abdullah Bin Saba’ Fi nasj al-Khayal).

Setelah para sahabat wafat, benih-benih perpecahan dalam akidah semakin membesar, sehingga timbullah bermacam sekte ideologi yang menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW. Saat itu muslimin terpecah dalam dua kelompok besar, satu bagian dikenal sebagai golongan-golongan ahli bid’ah atau kelompok-kelompok sempalan dalam Islam seperti Mu’tazilah, Syiah (Rawafid), Khowarij dan lain-lain. Sedang bagian yang satu lagi adalah golongan terbesar, yaitu golongan orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan turots yang dikerjakan dan diyakini oleh Rasulullah SAW. bersama sahabat-sahabatnya.

Namun pada abad ke 6 hijriyah sekitar tahun 661 hijriyah lahirlah seorang ulama terkemuka pada zamannya ahmad bin abdul halim bin abdus salam bin taimiyah yang lebih popular dengan nama ibnu taimiyah al harroni yang telah menjadi sosok kontroversional diantara para ulama dari berbagai lapisan empat madzhab baik di zamannya maupun ulama yang datang setelahnya dan tak jarang produk pemikirannya pun menjadi ajang polemik diantara ulama terutama yang bekaitan dengan masalah aqidah sehingga beliau sering menikmati kehidupannya di dalam jeruji besi, beliau dalam menyampaikan gagasan-gagasannya tidak hanya menyalahi ulama zamannya bahkan keberanian beliau sampai pada mukholafatul ijma’ (menyalahi ijma’ ulama) hal itu lah yang membuat beliau berada dalam buruan para ulama.

Produk pemikiran beliau yang menjadi kontroversi para ulama di zamannya terjadi pada tahun 698 hijriyah,awal mula beliau menyuguhkan pemikiran dan fatwa-fatwa yang popular dengan masalah alhamawiyah dan hal ini membuat beberapa fuqoha zamannya turut membahasnya dan mereka melarang beliau untuk berbicara,kemudian disusul oleh al qodi imamuddin alquzwaini  yang langsung memasukkan beliau ke dalam jeruji besi dan al qodi memmberikan pernyataan “barang siapa yang mengambil fatwanya ibnu taimiyah maka kami akan menta’zirnya (menghukumnya).

Selang beberapa waktu kemudian tepatnya pada tahun 705 hijriyah beliau kembali menghebohkan dunia islam dengan fatwanya yang membuat dirinya menjalani kehidupan penjara lagi, dan pada tahun 709 hijriyah akhirnya beliau dipindahkan ke iskandariyah dan tidak sampai situ saja di sana pun beliau juga menyuguhkan gagasan dan fatwa-fatwa yang di permasalahkan oleh ulama setempat,begitulah seterusnya seputar perjalanan hidup ibnu taimiyah yang sering kali keluar masuk penjara dalam beberapa kasus dan terkadang beliau terkesan tidak kosekwen dengan pernyataannya kadang beliau mengaku bermadzhab hambali namun pada kesempatan lain beliau mengaku bemadzhab safi’i sebagaimana hal itu di ungkapkan oleh al hafid ibnu hajar al asqollani dalam kitab addurorul kaaminah hal 88-98.

Oleh karena itu dari masa ke masa ulama selalu mengontroversikan pola pemikiran ibnu taimiyah muai dari ulama madzhab sampai ulama kalam bahkan beberapa muridny pun ikut andil dalam membicarakan sosok ibnu taimiyah seperti imam ibnu kastir dan imam addzahaby, maka tak heran kalau ibnu taimiyah menjadi ajang pembicaraan para ulama ahlus sunnah akan tetapi perlu di ingat juga bahwa imam ibnu taimiyah tidak selamanya seperti itu pada akhirnya pun beliau bertaubat atas semua ideologinys dan mrngikti ideology yang dikembangkan oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari hal ini ditandai dengan pernyataan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa:
ألأشاعرة أنصار أصول الدين والعلمار انصار علوم الدين
“Para pengikut Abu al-Hasan al-Asy’ari adalah penolong “Ushul” (pokok-pokok) agama, sedangkan para ulama adalah penolong ilmu-ilmu agama”.

 kemudian beliau mengangkat kitab-kitab yang bermadzhab as’ary sebagai simbol bahwasannya dia adalah pengikut as’ary sebagaimana yang ara di riwayatkan oleh al hafid ibnu hajar  dalam kitab addurorul kaaminah hal 148 dan hal itu juga disaksikan oleh ulama zamannya yang berkompeten As-Syeikh Syihabuddin An-Nuwairy wafat 733 H dalam kitab Nihayah Al-Arab Fi Funun Al-Adab juz 32 hal 115-116.

“Keilmuan” Ibnu Taimiyah

ibnu taimiyah dilahirkan pada tahun 661 H beliau tumbuh dengan kecerdasan yang luar biasa. mula-mula dia belajar pada ibnu abi daim, muslim bin allan dan ibnu abi amar dan dengan bekal kecerdasan yang tinggi beliau mampu mengalahkn yang lainnya dan imam addzahabi penah bercerita bahwa ibnu taymiyah sudah mempunyai kompetensi bermunadzoroh (berdebat) sebelum masa baligh dan mampu mengajar, mengarang serta berfatwa bahkan ketika umurnya belum memasuki 20 tahun (addurorul kaaminah hal 95). al hafid ibnu hajar pernah berbica panjang tentang kehebatan ibnu taimiyah melalui tulisan muridnya al hafid dzahabi, menurut addzahabi ibnu taimiyah mampu mentarjih dan membedakan argument yang kuat dalam masalh khilafiyah dan jarang sekali ku temukan seorang yang lebih cepat diri ibnu taimiyah dalam berargumen baik dengan ayat-ayat al qur’an maupu hadist seakan akan semua itu berada di depan dan di ujung lidahnya addurorul kaaminah hal 19 maka tak heran kalau ibnu taimiyah mampu mengkader dan menciptakan ulama-ulama yang hebat seperti al hafid ibu kastir,al hafid dzahabi,ibnu abdul hadi,samsuddin abu abdillah yang popular dengan ibnu jauzi,alhafid abu hajjaj yusuf bin abdurahman al mizzi.

Sorotan Ulama’ Tentang Pribadi Ibnu Taimiyah

قال المحدث الحافط الفقيه ولي الدين  العراقي إبن الشيخ زين الدين العراقي : إنه خرق الإجماع في مسائل كثيرة قيل تبلغ ستين مسألة بعضها في الأصول و بعضها في الفروع خالف فيها بعد انعقاد الإجماع عليها (الأجوبة الميضيةعلي المسألة المكية)

“seorang ahli hadist yang mendapat gelar al hafid al faqih waliuddin al iroqi putra dari shyaih zainuddin al iroqi berkata :sesungguhnya ibnu taimiyah telah keluar dari ijma’ ulama dalam berbagai masalah , dikatakan  mencapai 60 per masalahan , sebagian mengenai aqidah dan sebagian lainnya mengenai furu’, ia telah menyalahi permasalahan- permasalahan yang telah di sepakati oleh ulama’(al ajwibah al mudiah alal mas alatil maakiyah)

Hal sama juga di serukan oleh ibnu hajar al haitami sebagai berikut

Syakh ibnu hajar berkata dengan menukil semua permasalahan ibnu taimiyah yang menyalahi kesepakatan ulama’ yaitu :

Ibnu Taimiyyah telah berpendapat , bahwa Alam itu bersifat dahulu dengan satu macam, dan selalu makhluk bersama Allah. Ia telah menyandarkan alam dengan Dzat Allah Swt bukan dengan perbuatan Allah secara ikhtiar.

Ibnu taimiyah juga berkeyakinan akan adanya jisim pada dzatnya allah SWT ,arah dan perpindahan, dan dia juga berkeyakinan bahwa allah tidak lebih kecil atau lebih besar dari arsy, sungguh allah maha suci dari kedustaan keji dan buruk ini serta kekufuran yang nyata (al fatawa al hadisiyah 116)

Dalam kesempatan yang lain beliau juga menyinggung ibnu taimiyah serta muridnya sebagai berikut:

“maka berhati hatilah kamu dan jangan sampai mendengarrkan apa yang di tulis oleh ibnu taimiyah dan muridnya ibnu qoyyim dan lainnya dari orang- orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan allah telah menyesatkan nya dari ilmu serta menutup telinga dan hatinya dan menjadikan penghalang atas pandangannya”.(al fatawa al haditsiyah 203)

Seorang ulama besar Syaikh Abu Al-Hasan Ali Ad-Dimasyqi berkata dari ayahnya bahwasanya beliau bercerita

“ Ketika kami sedang duduk di majlis Ibnu Taimiyyah, dan ia berceramah hingga sampai pada pembahasan ayat Istiwa, ia berkata Allah Swt beristiwa di atas arasy-Nya seperti istiwaku ini “,(al maqoolat assuniyah 36)

Hal yang sama juga di ungkapkan oleh al hafid taqyuddin assubuky dalam kitab adduroru al mudhi’ah hal 2-3bahwa ibnu taimiyah telah membuat hal yang baru dalam masalah aqidah dan menghancurkan pondasi serta aqidah islam setelah dia mengaku masih mengikuti ajaran al qur’an dan hadist dam mengaku selalu mengajak kepada kebenaran kemudian dia keluar dari semuanya itu dan memciptakan sesuatu yang bid’ah dengan menyalahi semua ijma’ ulama’”

Al imam yaafi’I juga berkomentar “bahwa barang siapa yang mengikuti ajaran ibnu taimiyah maka halal darah dan hartanya” sebagaimana di kutib dari kitab( mir’atul janaan)

Al hafid ibnu hajar al asqollani juga berpendapat bahwa sebagian ulama ada yang menisbahkan ibnu taimiyah kepada kenifakan dan sebagian ulama juga menisbahkan ibnu taimiyah pada kezindikan (adduroru al kaminah)

Bahkan murid beliau sendiri al hafid addzahabi ikut andil dalam menyikapi pribadi beliau dan mengingatkan beliau agar berhenti menyerukan faham-faham estrim dan batilnya serta berhenti dari kebiasaan mencaci maki ulama’ soleh terdahulu maka dari itu al hafid addzahabi terdorong untuk menulis kitab yang bejudul an nasihah ad dzahabiyah li ibni taimiyah

Tidak hanya itu saja, bahkan sekitar 90 ulama besar yang telah mengkritisi produk pemikiran beliau yang dimanifestasikan dalam bentuk kitab-kitab klasik.

Penulis : ahmad maydin
Editor : amiruddin fahmi
Baca Selengkapnya...

30 Juli 2011

MA’HAD PENGEMBANGAN DAN DAKWAH NURUL HAROMAIN: PUSAT GERAKAN DAKWAH, MUSUH MISIONARIS KRISTEN


Ma’had Pengembangan dan Dakwah Nurul Haromain terletak di Desa Ngroto Kecamatan Pujon Kabupaten Malang, berada di lintasan jalur Malang - Kediri dan Jombang, sekitar 30 kilometer arah barat kota Malang. Secara geografis berada di ketinggian 500 meter di atas permukaan laut dengan temperatur rata-rata 17-19° C dan bahkan pada suatu saat di bawah 15° C. Panorama alam sekitar Ma’had adalah daerah pertanian yang sangat subur, dikelilingi gunung Arjuna dan gunung Kawi serta gunung-gunung lain dengan hiasan teraseringnya.

Ma’had ini mulai dirintis pada tahun 1986 oleh As Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki. Ketika memulai membangun Ma’had Nurul Haromain ini, Abuya (panggilan akrab As Sayyid Muhammad al Maliki) tidak menentukan ma’had ini dibangun untuk siapa, dan berpesan kepada KHM. Ihya’ Ulumiddin yang diserahi untuk mengawasi pembangunan “Jangan menerima bantuan dari siapapun, ma’had ini pendanaannya akan saya ambilkan murni dari saku pribadiku.” Akhirnya setelah lima tahun, bangunan pertama ma’had yang terdiri dari mushalla, asrama santri dan tempat tinggal pengasuh selesai dikerjakan. Mendapat laporan ini, Abuya sempat menawarkan “Bagaimana menurutmu, apa sebaiknya bangunan itu dijual saja?“ Mendengar ini kontan KH Ihya’ kaget dan bertanya “Dijual, Abuya?” dengan perasaan heran. Akhirnya Abuya memerintahkan KH Ihya’ sendiri agar menjadi pengasuh ma’had tersebut.

KH. Ihya’ Ulumiddin merupakan salah satu santri Abuya As Sayyid Muhammad Alawi angkatan pertama. Beliau belajar di ma’had Abuya di Makkah selama kurang lebih 4 tahun setelah sebelumnya menyelesaikan pendidikannya di Ma’had Langitan Tuban. Setelah pulang ke Indonesia, hari-harinya selalu diisi dengan mengajar dari satu ma’had ke ma’had lain, membina halaqah di berbagai kampus di Surabaya, dan tak lupa juga berdakwah di sekitar tempat tinggalnya. Beliau dipercaya oleh Abuya sebagai tangan kanan Abuya untuk mengurus urusan-urusan Abuya di Indonesia dan menghimpun segala informasi yang terjadi di Indonesia terkait teman-teman beliau sesama alumni Abuya. Hal ini dilakukan agar terus terjalin ikatan antara Abuya dengan santri-santrinya,

Sejak 1 Dzulqo’dah 1411 H Ma’had Nurul Haromain mulai dibuka dengan 10 orang santri dari sebelas orang pendaftar. Semuanya alumni dari Ma’had Mambaus Sholihin Suci Manyar Gresik yang diasuh oleh KH Masbuhin Faqih. Setiap tahun santri bertambah, namun di Ma’had Nurul Haromain ini jumlah santri dibatasi sebanyak 40 orang saja, sesuai pesan Abuya Sayyid Muhammad Alawi. Dengan jumlah itu, Abi (panggilan akrab para santri kepada pengasuh) akan bisa mengenal karakter, watak dan kemampuan masing-masing santri, sekaligus bisa mengawasi, mentarbiyah, membina dan membimbing perilaku keseharian mereka secara langsung dan mendalam.

Sebagai ma’had pengembangan, Ma’had Nurul Haromain hanya menerima santri yang telah lulus jenjang aliyah ma’had atau yang setara dan lulus tes. Di ma’had ini, hadits menjadi kurikulum yang mendominasi. Shohih Bukhori, Muslim, Sunan Abu Dawud dan Tirmidzi adalah pelajaran wajib yang diterima oleh para santri. Di ma’had ini hadits tidak hanya dibaca dengan makna gandulnya, tetapi dipelajari secara menyeluruh dari sisi asbabul wurud, arah tujuan dan kaitannya dengan suatu ayat atau hadits lain serta hukum dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Jadi tidak jarang apabila penjelasan satu hadits bisa memakan waktu satu jam lebih yang tentu saja itu semua dengan mengacu kepada pemahaman para ulama salaf. Selain hadits materi kajian lainnya seperti: tafsir, fiqh, dan aqidah juga menjadi materi yang diprioritaskan. Hal tersebut menjadikan para santri kaya wawasan, banyak mengenal dan membaca pendapat berbeda beberapa ulama dalam satu masalah.

Metode Pendidikan dan Dakwah
Dalam mendidik rohani santri, ma’had ini mewajibkan para santri sholat tahajjud dan witir berjama’ah sekitar pukul 02.30, dilanjutkan dengan membaca hasbanah dan lathifiyyah serta wirid-wirid lain. Selesai wirid, para santri melakukan haj’ah (tidur sebentar menunggu datangnya waktu shalat shubuh), lalu sholat shubuh dan membaca wirdullathif serta beberapa bacaan sholawat hingga matahari terbit dilanjutkan dengan sholat Isyroq dan Dhuha. Aktivitas selanjutnya adalah ta’lim pagi hingga pukul 07.30. Setelah makan pagi, pukul 09.30 mudzakaroh bersama hingga menjelang zhuhur. Usai sholat zhuhur, para santri membaca wirid dhuhur, makan siang dan istirahat sampai menjelang Ashar. Usai sholat Ashar para santri mengajar anak-anak membaca Al Qur’an di desa-desa terdekat. Pulang mengajar, para santri kembali ke ma’had untuk sholat Maghrib berjamaah dan membaca wirid sampai Isya’, makan malam, dan ta’lim. Santri lalu istirahat pada pukul 10.00 malam. Kegiatan ini berjalan dari hari Senin sampai Kamis. Aktivitas padat yang harus dijalani oleh santri di ma’had ini memang sebuah metode tarbiyah tasyghiutl thullab (membuat para santri sibuk) yang didapatkan pengasuh dari Sang Guru Besar Abuya As Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Hasani.

Setiap Kamis sore, para santri berangkat ke tempat dakwah masing-masing yang berada di desa-desa di sekitar Malang dan Jombang. Para santri dilatih untuk terjun langsung berinteraksi, berdakwah, dan menyampaikan kepada masyarakat ilmu yang telah didapatnya dalam empat hari ta’lim di ma’had. Selain itu, kegiatan dakwah mingguan ini juga untuk menumbuhkan semangat dan jiwa dakwah yang dewasa ini sudah mulai luntur dari orang-orang berilmu (khususnya alumni pesantren) yang karena tidak terbiasa akhirya hilang kepercayaan diri untuk berdakwah. Desakan ekonomi dan kebutuhan hidup yang semakin mendesak kadang juga membuat mereka banting setir dengan bekerja dan meninggalkan kewajibannya sebagai orang berilmu untuk berdakwah.

Ma’had ini sungguh sesuai dengan keadaan masyarakat sekitar. Sebab Ma’had Nurul Haromain berada di tengah-tengah masyarakat yang tergolong minus agama. Hal ini menjadikan peluang terbuka bagi para misionaris Kristen untuk bergentayangan melakukan usaha pengkafiran. Maka tidak mengherankan jika pada tahun-tahun awal, para santri pesantren ini sering terlibat dalam konflik dengan para misionaris. Ketelatenan dan kontinuitas dakwah sedikit demi sedikit akhirnya mampu menumpulkan usaha-usaha para misionaris Kristen. Boleh dikatakan gerakan tanshir (kristenisasi) di daerah Pujon sekarang ini mati. Hal ini sesuai dengan doa Abuya As Sayyid Muhammad Alawi ketika membangun ma’had ini. Beliau berdoa semoga ma’had ini menjadi markaz (pusat) dakwah Islam, Allohummaj’al hadzal ma’had markazan lidda’wah.

Di antara langkah yang ditempuh ma’had ini dalam berdakwah adalah dengan bergaul dekat, akrab bersama masyarakat. Dakwah yang simpatik dilakukan para santri dengan tanpa risih dan segan bergerilya, berkunjung dari satu rumah ke rumah lain bertanya kepada penduduk bagaimana keadaan, apa pekerjaan, berapa jumlah anak dan cucunya?. Ini semua menyebabkan masyarakat merasa diperhatikan sehingga tumbuhlah keterikatan hati mereka dengan para santri. Pada malam Ahad, semua santri datang. Ahad pagi, setelah subuh mereka membaca Maulid Nabawi atau melakukan latihan mental, berceramah di hadapan teman - teman sendiri dengan topik-topik yang telah ditentukan. Sekitar pukul 07.00, para santri melakukan olahraga di lapangan desa Ngroto yang kebetulan tidak jauh jaraknya. Setelah berolahraga dan sarapan, para santri mengikuti ma’arif ‘am - sebuah kegiatan pengembangan pengetahuan wawasan umum.

Di samping menjalin hubungan baik dengan masyarakat, ma’had ini juga menjalin hubungan dengan kampus-kampus yang ada di Malang dan Surabaya. Sebagian santri dikirim ke kampus untuk membuka halaqoh ilmu membina para mahasiswa. Tidak jarang para mahasiswa mahasiswi datang dan menginap di ma’had selama beberapa hari untuk menyelenggarakan training keagamaan, atau pendalaman agama secara praktis. Adanya interaksi antara pesantren dengan dunia akademik (kampus) ini mendorong terjadinya barter ilmu pengetahuan dan pengalaman. Di satu sisi, santri mendapatkan informasi atau data baru tentang perkembangan terkini dan di sisi lain para mahasiswa juga bisa melihat gambar hidup dari Islam yang dilakonkan para santri. Interaksi yang cukup intens antara santri dan mahasiswa di pesantren ini membuahkan banyak sekali manfaat bagi kedua belak pihak.

Para santri Nurul Haromain, meski sama sekali tidak dipungut biaya (SPP atau syahriyyah) alias gratis, juga mendapatkan kesempatan mengembangkan wawasan umum seperti bahasa Arab, bahasa Inggris, komputer, kajian kristologi, pemikiran kontemporer, latihan tulis-menulis, serta latihan keterampilan lain.

Jika pesantren putra menjadi tempat menempa para da’i, maka mulai tahun 2003 Nurul Haromain juga membuka ma’had putri. Selain mengaji, para santri putri juga mengikuti kuliah di kampus PGTK (Pendidikan Guru TK) yang berada satu komplek dengan Play Group, SDIT, SMP Plus, dan SMK Nurul Haromain. Hal yang cukup menggembirakan, dengan segala keterbatasan yang dimiliki, para santri puteri Nurul Haromain cukup mendapat simpati dari berbagai instansi pendidikan, khususnya Play Group dan TK.


Alumni
Setelah menimba ilmu di Nurul Haromain selama kurang lebih 3 tahun (batas minimal menjadi santri Nurul Haromain), sebagian santri mengemban tugas menyebarkan dakwah Islam ke berbagai daerah. Saat ini para da’i alumni Ma’had Nurul Haromain telah tersebar ke berbagai daerah di Pulau Jawa, Madura, Batam, dan Papua. Mereka mendirikan pesantren-pesantren cabang, majelis-majelis ta’lim, berbagai lembaga pendidikan Islam formal di tempat tugasnya. Saat ini telah berdiri kurang lebih 25 pesantren cabang, 15 LPI (Lembaga Pendidikan Islam), dan puluhan majelis ta’lim yang berada di bawah Persyarikatan Dakwah Al Haromain (PERSYADHA). Sebagian santri lainnya melanjutkan pendidikan ke Abuya As Sayyid Ahmad bin Muhammad Alawi Al Maliki Makkah. Untuk terus menjalin ikatan dengan santri dan menyatukan gerak langkah dakwah, maka para santri, alumni, dan seluruh anggota PERSYADHA wajib mengikuti taushiyah bulanan oleh KH. Ihya’ Ulumiddin. Selain taushiyah bulanan, mereka juga wajib hadir dalam Multaqo Sanawi (pertemuan tahunan), Istihlal, dan Maulid Nabi.
Baca Selengkapnya...

KH. Muhammad Nasichin Nur Menghabiskan Waktunya dengan Berdakwah dan Mengajar


“Aku ingin meninggal saat melaksanakan shalat atau ketika mengajar”, demikian ungkapan beliau saat berkumpul bersama putera puterinya. Ungkapan tersebut menunjukkan betapa besar semangatnya dalam berdakwah dan mengajar. Hal itu terlihat dalam rutinitas keseharian beliau yang terisi penuh dengan jadwal kegiatan mengajar di Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah, Pondok Pesantren Salafiyah Bangil, dan beberapa majelis taklim di wilayah Bangil.

Ustadz Muhammad Nasichin Nur yang akrab dipanggil Nasichin ketika masih kecil itu dilahirkan di Pasuruan, 1 Agustus 1949, dari seorang ibu yang bernama Nasichah dan ayahnya bernama Nur Muhammad. Beliau lahir di tengah-tengah keluarga yang sederhana dengan profesi ayahnya sebagai seorang penjahit. Namun hal itu tidak mematahkan semangat beliau untuk memiliki cita-cita yang tinggi dan tekun dalam menuntut ilmu. Di saat belajar di SR (Sekolah Rakyat, SD sekarang) Nasichin kecil tergolong anak yang berprestasi. Setiap ujian akhir tahun beliau selalu mendapat ranking satu dan hal ini membuat kedua orang tuanya sangat bangga.

Setelah menamatkan pendidikannya di SR beliau melanjutkan pendidikannya di Pondok pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Di pondok pesantren inilah beliau mulai mendalami ilmu-ilmu agama dan memperbanyak khidmah dan tirakat, sehingga tubuh beliau tampak kurus ketika belajar di pesantren tersebut. Suatu hari ibunya menjenguk beliau ke pesantren dan melihat putranya yang tampak kurus dengan sarungnya yang tampak usang lalu berkata: “Nasichin badanmu kok tampak kurus?”, beliau menjawab: “ya, di pesantren harus banyak tirakat, sering puasa”, mendengar jawabannya itu ibunyapun terdiam penuh harapan.

Satu cerita yang tidak kalah menarik adalah saat beliau mendapat predikat sebagai bintang pelajar di pesantren Sidogiri. Ketika pengumuman juara kelas dibacakan, beliau masih berada di pasar melakukan pekerjaannya sebagai buruh belanja untuk pesantren demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Setelah mengetahui hal itu maka teman-temannya segera menyusul dan membawanya kembali ke pesantren penuh haru. Ternyata “buruh belanja” mereka lah yang menjadi bintang pelajar. Sebuah pelajaran bahwa keterbatasan tidak seharusnya menjadi halangan untuk meraih prestasi tertinggi.

Setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren Sidogiri beliau memutuskan untuk pindah dan berkhidmat kepada keluarga Kyai di Lasem, Jawa Tengah dengan bekerja mengisi air ke kamar mandi dan dan membersihkan kamar mandi milik Kyai. Sepulangnya dari Lasem beliau dinikahkan dengan Hamidah putri dari Haji Yusuf. Dari pernikahan ini lah beliau dianugerahi sepuluh orang anak, lima laki-laki dan lima perempuan.

Bertemu Nabi Khidhir

Pada tahun 1988, beliau menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Saat inilah beliau mengalami kejadian yang luar biasa dalam hidupnya, beliau bertemu dengan Nabi Khidir AS. Ini terjadi pada saat beliau mengkhatamkan Al-Qur’an, tiba-tiba beliau dikagetkan oleh pemuda misterius berwajah tampan dan mengenakan jubah abu-abu yang menepuk pahanya seraya berkata kepadanya: “uskut ! (diam!)” bermaksud agar beliau diam berhenti dari bacaan Al-Qur’annya, namun beliau tidak menggubris pemuda misterius itu dan terus membaca. Untuk kedua kalinya pemuda itu berkata lagi kepada beliau dengan kata yang sama namun beliau tetap saja tidak memperdulikannya. Sampai pada teguran yang ketiga dan dengan kata yang sama barulah beliau menghentikan bacaannya.

Setelah itu terjadilah dialog antara keduanya, pemuda misterius itu bertanya kepada beliau tentang nama dan negara asalnya. Setelah beliau menjawab pertanyaan pemuda misterius itu,beliau balik menanyakan nama dan Negara asalnya, lalu dia menjawab: “aku Balya bin Malkan Al-Madani”. Saat itu beliau tidak ingat bahwa itu adalah nama asli Nabi khidir, meski beliau sempat minta didoakan oleh Nabi Khidir tersebut dan Nabi Khidir pun mendoakannya.

Setelah mendoakannya, pemuda misterius yang ternyata Nabi Khidir itu menyuruh agar beliau melanjutkan bacaannya dan memnyerahkan secarik kertas kepada beliau sebelum dia pergi. Setelah kepergian pemuda misterius itu beliau baru teringat bahwa Balya bin Malkan itu adalah Nabi Khidir AS. Beliau pun mencarinya kemana-mana namun tidak berhasil menemukannya, Nabi Khidir seperti menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Masih tentang peristiwa yang terjadi ketika beliau haji. Suatu ketika beliau sedang mengerjakan ibadah Thawaf. Di tengah-tengah ibadah tersebut beliau jatuh pingsan. anehnya ketika sadar ternyata beliau mendapati dirinya sudah berada di dekat sumur zam-zam. Beliau kaget dan bingung tidak tahu siapa yang telah menolongnya. Seandainya tidak ditolong beliau tentu sudah terinjak oleh jamaah haji lain yang saat itu juga sedang melakukan ibadah thawaf. Dari pengalaman ini beliau yakin bahwa siapa yang menolong orang lain pasti akan ditolong.

Pribadi yang Menawan
Beliau adalah orang yang sangat perhatian terhadap janda dan anak yatim piatu. Beliau adalah sosok di balik berdirinya Yayasan Jalaluddin yang menyantuni mereka yang kurang mampu. Untuk hal itu beliau mencari donatur dari Saudi dan masyarakat di sekitar Bangil. Amal baik itu telah dijalaninya selama lebih dari 20 tahun dengan jumlah anak yatim yang disantuni saat itu lebih dari 100 orang. Semua biaya mereka berada dalam tanggungannya termasuk biaya hidup dan pendidikan. Tidak lebih dari satu tahun sebelum wafat, beliau difitnah oleh orang yang tidak menyukai beliau. Mereka menciptakan fitnah bahwa beliau makan harta anak yatim. Padahal menurut orang-orang yang dekat dengannya, beliau justru memberi uang kepada anak-anak yatim itu dari saku pribadinya. Menghadapi fitnah tersebut, beliau tampak tenang dan sabar “itu masih ujian Allah dan pasti ada hikmahnya” demikian tuturnya seperti yang penuturan yang disampaikan oleh Musthofa Nasichin, putera terakhirnya.

Sebagai seorang pendidik, beliau dikenal sebagai pribadi yang disiplin dan tepat waktu. Setelah suara bel tanda masuk kelas beliau langsung menghadiri kelas dan langsung mengisi materi pelajaran meskipun santri-santrinya banyak yang belum hadir. Satu cerita yang menarik dari putera beliau adalah saat beliau menunggu para jamaah datang ke mushalla, yang beliau lakukan saat menunggu jamaah adalah dengan membaca wirid sambil berjalan dan setiap ada jamaah yang masuk mushalla beliau yang menata sandalnya tanpa memandang siapapun orangnya meskipun santrinya sendiri.

Sikap beliau yang demikian itu membuat para jamaah merasa sungkan terhadap perlakuan beliau sehingga ada salah seorang jamaah yang berkata: “Tak totone dewe sebelum ustadz Nasichin yang noto” (biar saya sendiri yang mengatur sandalku sendiri sebelum didahului ustadz Nasichin).

Sebagai seorang anak, beliau dikenal berbakti kepada orang tuanya. Di mata beliau, orang tua itu adalah seperti Al-Qur’an yang tetap wajib dimuliakan. Meskipun sudah lusuh atau koyak sekalipun harus tetap dimuliakan. Setiap selesai mengajar dari pesantren Salafiyah beliau selalu menyempatkan diri datang untuk menjenguk ibunya dan memberinya sesuatu.

Beliau sangat bertanggung jawab kepada keluarga dan memberikan perhatian penuh terhadap perkembangan anak-anaknya dalam segala urusan. Setiap malam beliau tak pernah lupa membangunkan anggota keluarganya untuk shalat tahajjud dan setiap malam jum’at pasti mengingatkan keluarganya untuk membaca Qur’an surah Al-Kahfi.

Menjelang usia senja, beliau mengidap komplikasi yang mengganggu kesehatan beliau. Meski begitu, hal itu tidak mengurangi intensitas beliau dalam mengajar yang sudah menjadi kehidupannya. Menjelang wafat, komplikasi yang dideritanya kambuh sehingga memaksa beliau menghentikan kegiatan mengajarnya dan membuatnya harus dirawat inap di rumah sakit Bangil. Sakitnya yang tak kunjung sembuh membuat beliau harus dirujuk ke rumah sakit Malang. Sore hari selepas ashar pada tanggal 4 Ramadhan 1431 H. beliau mengajak seluruh keluarganya yang telah berkumpul untuk melaksanakan shalat berjamaah. Setelah takbir, ternyata beliau telah diizinkan untuk menghadap Sang pencipta. Beliau meninggal dalam keadaan shalat disaksikan putra-putrinya di bulan yang mulia, bulan Ramadhan di rumah sakit Malang. Ketika hari wafatnya tampak masjid Agung Bangil sesak dipadati jama’ah, yang terdiri dari para tokoh habaib, ulama dan kyai serta seluruh santri-santri beliau dan masyarakat sekitarnya yang ingin menemani beliau di saat terakhir dan menshalati jenazahnya. Rombongan jama’ah yang merasa kehilangan sosok yang mereka cinta terus mengiringi dan mengikuti prosesi pemakamannya di pemakaman umum Bangil hingga akhir.

Semoga allah selalu merahmati beliau, dan semoga kita mendapat rahmat allah berkat beliau. Amin.
Baca Selengkapnya...